Universitas Idaman-ku. Sembilan tahun yang lalu aku teringat sebuah momen yang cukup berharga bagiku. Saat dimana aku harus menentukan sebuah pilihan untuk masa depan di sebuah universitas idaman. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga SMU. Keluargaku berasal dari desa yang jauh dari mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Begitu juga dengan lingkunganku, tak ada seorang warga di dusunku yang mempunyai gelar sarjana. Bagi mereka (warga dusunku), menjadi seorang sarjana bukanlah hal yang bisa menjajikan masa depan anak-anaknya. Mereka lebih memilih menjual sawahnya, untuk mendaftarkan anaknya menjadi polisi atau pegawai lainnya. Namun aku bersyukur, keluargaku punya pandangan lain, apalagi ibuku. Ibuku sangat berharap aku bisa menuntut ilmu sebanyak mungkin. Karena dengan bekal ilmu kita bisa berguna bagi diri kita dan orang lain.
Kemeriahan Puncak Milad Ke 28 MB UII
1 jam yang lalu
